Menumbuhkan Berpikir Komputasional dengan Biji Karet
“Bukan hanya soal membuat bentuk, berpikir komputasional juga menyoal strategi, urutan berpikir, dan penyelesaian masalah.”
GuruPAUDPNF, Jakarta – Di tengah dunia yang serba digital, tantangan bagi lembaga PAUD bukan lagi sekadar mengenalkan huruf dan angka. Pendidik PAUD, menghadapi tantangan yang lebih dalam, “Bagaimana mempersiapkan anak-anak agar tidak hanya bisa menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara berpikir di baliknya?” Lebih dalam lagi adalah, bagaimana anak-anak usia dini menerapkan cara berpikir teknologi tersebut dalam kesehariannya.
Tantangan itulah yang melatarbelakangi Direktorat Guru PAUD dan Pendidikan Masyarakat menyelenggarakan pelatihan micro-credential dengan tema “Menumbuhkan Berpikir Komputasional pada Anak Usia Dini” tahun 2024. Tujuan dari pelatihan itu adalah pendidik PAUD dapat mengintegrasikan konsep berpikir komputasional ke dalam pembelajaran PAUD. Bukan sekadar mengajarkan coding, tetapi lebih jauh—melatih anak berpikir logis, menyusun strategi, menyederhanakan masalah, dan membuat keputusan berdasarkan informasi. Karena kemampuan itu yang menjadi salah satu muara dari perjalanan mendidik anak sejak dini usia, yaitu anak yang mampu berpikir kritis dan kreatif.
Awalnya, banyak pendidik PAUD yang terpilih mengikuti pelatihan micro-credential tersebut mengira, berpikir komputasional melulu menggunakan perangkat digital, seperti komputer, laptop, dan telepon seluler. Bahkan, ada yang ragu, “Apakah bisa lembaga PAUD saya menerapkannya? Kami hanya lembaga PAUD sederhana, sedikit sekali fasilitas belajar yang dipunya.”
Keraguan Berbuah Kegembiraan
Hampir setahun pelatihan yang menghadirkan narasumber dari Korea National University of Education (KNUE) berlalu. Tetapi, cerita-cerita menggembirakan hasil pelatihan masih membahana. Salah satunya adalah cerita dari Nur Mei, pendidik di SPS Al-Qur’an An Nur, Semoi Dua, Kalimantan Timur. Dalam artikel praktik baik penerapan berpikir komputasional, dia mengatakan, awalnya tidak menyangka, biji karet ternyata bisa menjadi media belajar untuk menstimulasi anak berpikir komputasional. Ya, tanaman karet tumbuh subur di desanya. Tak heran jika anak-anak akrab dengan biji karet.
Nur menganggap itu hal biasa—bahkan terlampau biasa. Sebagai pendidik, Nur bahkan nyaris tidak menggubris kehadiran biji karet yang saban hari bertebaran di halaman lembaga PAUD. Biji itu keras, hitam, dan tahan lama. Hingga di suatu pagi, Nur dihadapkan pada kejutan kecil yang membuka sudut pandang baru.
Beberapa anak datang membawa benda kecil berwarna putih. Awalnya Nur kira itu permen kenyal. Tetapi, mereka berseru, “Ini biji karet, Bu!” Nur tertegun dan membatin, “Biji karet selama ini selalu saya kenali dalam bentuk kulit keras yang gelap. Tapi ternyata, ketika dibuka, bagian dalamnya berwarna putih, kenyal, bahkan lembut!”.
Lahirlah ide spontan Nur, “Bagaimana kalau hari ini kita tidak pakai plastisin, tapi pakai biji karet untuk membuat bangun tiga dimensi?” Anak-anak bersorak senang. Mereka minta izin untuk mencari biji karet di sekitar halaman sekolah. Nur ikut turun ke lapangan.
“Kami jadi semacam ekspedisi kecil, menyusuri tanah berumput sambil menengadah dan menunduk, mencari biji karet seperti sedang mencari petunjuk harta karun,” ujar pendidik yang berbadan mungil itu.
Kegiatan utama hari itu adalah membangun bentuk tiga dimensi. Media yang digunakan? Tusuk gigi dan biji karet. Nur menampilkan beberapa contoh bangun ruang di layar laptop. Setiap anak bebas memilih gambar mana yang ingin mereka buat. Nur kala itu hanya menyebutkan nama bangun tersebut. Sisanya, anak-anak pikirkan sendiri: Berapa jumlah tusuk gigi yang dibutuhkan? Berapa biji karet sebagai titik sudut? Bagaimana menyusun alas, kemudian menyusun sisi-sisinya hingga menjadi bentuk tiga dimensi yang kokoh?
Tanpa sadar, anak-anak sedang melakukan sesuatu yang luar biasa: mereka menyusun langkah, mengevaluasi, mencoba ulang, dan menciptakan versi mereka sendiri. Mereka menerapkan computational thinking—berpikir komputasional—dalam wujud yang sangat konkret dan menyenangkan.
Berpikir komputasional, sesuai kerangka yang dikenal dalam pendidikan anak usia dini, terdiri dari empat komponen utama:
- Dekomposisi: memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil.
- Abstraksi: menyaring informasi penting dan mengesampingkan yang tidak relevan.
- Pengenalan Pola: mengenali kemiripan dalam suatu struktur atau permasalahan.
- Algoritma: menyusun langkah-langkah logis untuk menyelesaikan suatu masalah.
Dalam kegiatan itu, keempatnya hadir: anak-anak membagi tugas mereka sendiri, menyesuaikan bentuk dengan gambar, menentukan langkah, dan menjalankan prosesnya. Bukan hanya soal membuat bentuk, tapi juga soal strategi, urutan berpikir, dan penyelesaian masalah.
Hari itu tidak hanya diisi dengan satu kegiatan. Dalam waktu yang bersamaan, anak-anak juga menggambar bebas, menyusun huruf, membuat jalur menuju kebun, hingga menempel kolase dari kertas dan daun kering. Semua kegiatan berlangsung paralel dengan semangat eksplorasi yang sama. Tetapi, di antara semuanya, Nur mengatakan, “Saya melihat bahwa biji karet menyimpan potensi luar biasa—ia bisa menjadi jembatan antara dunia nyata dan dunia logika.”
Di akhir ceritanya, Nur Mei mengisahkan, “Sebagai pendidik PAUD, kita sering berpikir bahwa mengenalkan logika, algoritma, atau struktur berpikir sistematis pada anak usia dini adalah hal yang terlalu ‘tinggi.’ Tapi saya belajar hari itu, bahwa jika disampaikan melalui pengalaman langsung, dengan media yang dekat dengan keseharian mereka, konsep itu justru sangat membumi dan mudah dipahami.”
Semoga pengalaman kecil tersebut menginspirasi pendidik PAUD lainnya. Karena sesungguhnya, kita tidak perlu ruang kelas mewah untuk mengenalkan computational thinking. Cukup kepekaan, kreativitas, dan keberanian membaca peluang dari sekitar. Dari biji karet yang jatuh di atap, bisa lahir pemikiran besar dari tangan-tangan mungil yang sedang belajar memahami dunia. (Sri Lestari Yuniarti, Widya Prada Ahli Muda Direktorat Guru PAUD dan PNF)

