Logo GPNF

Menu

Kicau - Kumpulan Lagu AnakWhatsApp: +62 821-1555-5456

“BAHAGIA DULU, PINTAR ITU BONUS”

“Merdeka bermain mutlak sebagai wujud menghargai estetika belajar dan berkembang.”

Kamis, 14 September 2023

GuruPAUDDikmas, Denpasar -- Kurikulum Merdeka merupakan paradigma baru pembelajaran abad ke-21. Dalam beberapa kesempatan, para guru diminta untuk mengubah paradigma pembelajaran yang selama ini berfokus kepada guru, kini harus kepada murid. Sebuah paradigma yang mengedepankan keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif.

Lalu muncul pertanyaan yang berseliweran di dalam pikiran saya. Apa esensi perubahan paradigma pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka?

Beruntunglah saya bisa mengambil bagian pada kegiatan Guru Penggerak Angkatan IV. Saya mulai menemukan bentuk jawaban yang konkret bahwa tuntunan itu harus selaras dengan kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik. Kodrat alam adalah sesuatu yang berkaitan dengan bakat dan minat peserta didik pada suatu aspek pengembangan, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan pemenuhan untuk mengakomodasi atau memadukan bakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga, bakat tersebut menjadi modal berharga menghadapi perubahan zaman yang terus berubah.

Sangatlah tepat apa yang menjadi filosofi dari Bapak Pendidikan kita, bahwa pemenuhan kodrat alam dan kodrat zaman peserta didik akan menjadikan mereka layaknya manusia seutuhnya sesuai perkembangan zaman. Jika ditelaah kembali, maka filosofi ini relevan tidak hanya 10 hingga 20 tahun ke depan, tetapi bisa diwariskan sepanjang hayat.

“Tuntunan bukan semata memenuhi kebutuhan peserta didik, tetapi mempersiapkan mereka pada zamannya.”

Menyadari pentingnya perubahan paradigma, maka tantangan yang utama bukanlah memberikan tuntunan pada peserta didik. Saya yakin setiap guru memiliki potensi yang menonjol pada individu masing-masing dan mempunyai kemauan untuk mengembangkan diri secara pribadi. Apalagi, dukungan pemerintah juga dapat dirasakan melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM). Bukan sekadar sebagai media pengembangan diri, tetapi juga berbagi praktik baik.

Sementara itu tantangan besar yang harus dihadapi adalah mengubah paradigma orang tua tentang tujuan pendidikan anaknya. Orang tua sering kali menginginkan anaknya menjadi pintar secara akademik. Padahal, fase fondasi yang menjadi tujuan pembelajaran adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

Adapun salah satu cara yang sederhana adalah menghargai kegiatan bermain anak. Pasalnya, dalam kegitan bermain anak selalu terdapat aspek pengembangan yang bisa kita amati sebagai seorang guru. Maka dari itu, anak-anak haruslah bahagia, pintar itu bonusnya.

“Bermain adalah salah satu bentuk pembelajaran konkret pada pendidikan anak usia dini, yakni ketika anak-anak bermain, di situlah pengembangan potensi yang paling sederhana.”

Di samping itu, keluarga merupakan lingkungan utama bagi anak-anak dalam menerima tuntunan. Setiap anak lahir dari lingkungan yang berbeda, pola asuhnya pun juga berbeda.

Ketika anak-anak masuk ke dalam lingkungan sekolah, mereka akan bersentuhan dengan suasana baru yang cenderung berbeda dengan lingkungan rumahnya. Oleh karena itu, jalinan kolaborasi yang apik antara guru dan orang tua sangatlah diperlukan agar tuntunan baik bisa didapatkan anak tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolahnya.

Perubahan paradigma pembelajaran dari yang berfokus pada guru menjadi pembelajaran yang mengedepankan murid memang benar-benar harus dilakukan. Kita tidak ingin lagi peserta didik menjadi obyek. Mereka harus menjadi subyek, sehingga bisa berkembang sesuai keinginannya.

Selain menyadari pentingnya mengubah paradigma, diperlukan juga menjalin komunikasi dan memerdekakan peserta didik. Maka, di sekolah saya membentuk komunitas yang melibatkan orang tua peserta didik. Tujuan utamanya adalah untuk memudahkan komunikasi dan sebagai wadah berbagi di antara anggota komunitas terkait pemenuhan tuntunan peserta didik.

“Wujud sederhana dari pemenuhan bakat, minat, dan potensi peserta didik adalah tuntunan”

Tak ketinggalan, orang tua sendiri merupakan bagian krusial dari pemberian tuntunan terhadap peserta didik. Mereka menjadi guru pertama di lingkungan terdekat peserta didik yang seharusnya memiliki lebih banyak waktu membersamai anak-anak di rumah. Ketika orang tua menyekolahkan anak-anaknya di sekolah, mereka tidak serta-merta menyerahkan peserta didik secara absolut pada pihak sekolah, melainkan ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Orang tua dan guru harus aktif berdiskusi dan menyamakan persepsi guna mengoptimalkan tuntunan yang akan diberikan pada peserta didik. Hal tersebut dilakukan guna mengakomodasi kemerdekaan kegiatan bermain peserta didik sebagai bentuk pengembangan kemampuan dasarnya.

Inti dari tulisan ini adalah “Bahagia Dulu, Pintar Itu Bonus”. Mari berikan peserta didik kesempatan bermain seluas-luasnya, agar mereka berkembang sesuai dengan fase tumbuh kembangnya! (I Kadek Permana – TK Kumara Windu Kencana 1)